Minggu, 15 September 2013

Candra Mawa 

                                                                                                     edohaput


17

Mendengar laporan Legino dan Mijan, Ki Demang Sawang Argo sangat gembira. Ternyata anaknya semata wayang masih hidup dan dalam keadaan tidak cidera. Di balik kegembiraannya ada rasa kawatir yang sangat menghantui. Jika laporan Legino dan Mijan ini didengar Tumenggung Suro Blasah pasti Daruni akan dijemput paksa oleh Tumenggung Suro Blasah. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya pada diri Daruni. Di dakam hati kecilnya Ki Demang Sawang Argo ingin Daruni tetap berada di pondok Nyi Tambi. Ki Demang percaya Daruni akan mendapat perlakuan yang baik dan perawatan yang semestinya di Tambi. Ki Demang sudah sangat sering mendengar kabar kalau Ki Tambi dan Nyi Tambi adalah orang baik. Orang yang mau banyak memberi pertolongan kepada orang lain yang membutuhkan. Walaupun Ki Demang belum pernah bertemu dengan Ki dan Nyi Tambi tetapi Ki Demang Sawang Argo sangat percaya kalau Daruni pasti mendapatkan perlindungan dari Ki dan Nyi Tambi. Tetapi kalau kabar ini tidak diberitahukannya kepada Tumenggung Suro Blasah, dan Temunggung Suro Blasah yang ahkirnya tahu kalau dirinya berbohong, maka lehernyalah yang menjadi taruhannya. Keberadaan Daruni tidak diberitahukan ke Tumenggung Suro Blasah dirinya terancam dianiaya Tumenggung, tetapi jika diberitahukan pasti Daruni akan dijemput paksa dan dibawa ke Kepatihan dan Daruni akan menjadi sangat menderita. Ki Demang bertemu dengan buah si malakama. Dimakan mati tidak dimakanpun mati. Ki Demang tidak mempunyai pilihan. Air  mata Nyi Demang yang terus membasahi pipinya juga membuat perasaan Ki Demang menjadi semakin gundah. " Menurut pikiran saya, Ki Demang beritahukan saja keberadaan Daruni ini kepada Raden Tumenggung." Kata Legino memecah kebekuan suasana. " Dan Ki Demang memohon kepada Raden Tumenggung agar Daruni bisa dibawa pulang ke kademangan. Dan Ki Demang juga memohon agar Raden Tumenggung mau membatalkan niatnya membawa Runi ke Kepatihan." Legino kemudian mengambil napas panjang dan menghempaskannya untuk melepaskan beban di dadanya. Legino sangat ingin Daruni tetap berada di Kademangan. Dengan begitu siapa tahu dirinyalah nantinya yang beruntung mempersunting Daruni. Ki Demang tidak menjawab usul Legino. Mata malah berkaca - kaca dan menerawang menembus langit - langit pendopo kademangan. Mijan yang sedari tadi hanya tertunduk dan sedih memikirkan nasib yang akan terjadi terhadap Demangnya dan Daruni, ikut membenarkan usul Legino : " Benar Ki. Usul kang Legino patut dicoba. Siapa tahu Raden Tumenggung Suro Blasah masih memiliki rasa iba terhadap Ki Demang dan Daruni." Kata - kata Mijan ini juga sangat didengarkan oleh Ki Demang. Tetapi Demang Sawang Argo tetap diam. Duduk terpaku dan pandangan matanya tetap menerawang. Terbayang penderitaan Daruni jika dibawa Tumenggung Suro Blasah. Terbayang pula penyiksaan yang akan menimpa dirinya yang akan dilakukan oleh Tumenggung Suro Blasah. " Baiklah aku akan pikirkan bersama Nyi Demang. Trima kasih atas usaha kalian bisa menemukan Runi." Ki Demang beranjak dari duduk dan menggandeng tangan Nyi Demang meninggalkan Legino dan Mijan.
Melihat Ki Demang dan Nyi Demang sudah masuk dan menutup pintu rumah induk, Sumirah yang mendengar kabar kalau Legino telah pulang ke kademangan dan sedang menghadap Ki Demang, segera menuju samping pendopo dan bersembunyi di balik pohon, bergegas lari ke pendopo untuk mendapati Legino. Legino yang beranjak dari duduk bersila dan belum sempat berdiri sempurna telah ditubruk Sumirah. Legino sempoyongan dan tetap diruket Sumirah. " Kang aku kangen banget, kang. Aku kangen ... kang !" Sumirah memeluk tubuh Legino. Mijan yang menyaksikan adegan ini hanya bisa tersenyum dan segera ngeloyor pergi. Mijan sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi antara Legino dan Sumirah. Mereka pasti akan segera pergi ketempat dimana mereka sering melewatkan hari - hari menyenangkannya. 
Malam mulai menyelimuti Kademangan Sawang Argo. Rembulan yang muncul di ufuk timur berwarna merah. Pelataran Kademangan Sawang Argo ramai dengan celoteh anak - anak yang bermain petak umpet. Berlarian dan saling mengejar, saling bersembunyi di balik pohon - pohon besar di halaman kademangan. Di sudut halaman di bawah pohon beringin kurung duduk Mijan dikerumuni perawan - perawan kademangan. Para perawan asyik mendengarkan cerita Mijan dalam perjalanannya sampai bisa menemukan Daruni. " Trus Daruni mau pulang  ke kademangan tidak ya, kang ?" Tanya Painah yang sedari tadi duduknya merapat ke Mijan. " Wah kalau soal itu aku tidak tahu, Nah. Ya sana tanya sendiri sama Daruni !" Jawaban Mijan ini mengundang tawa para perawan kecuali Painah yang malah jadi memberengut dan menyubit lengan Mijan. " Kasihan ya Daruni. Di rumah enak - enak harus melarikan diri jauh dari rumah." Sambung Giyuk yang gemuk dan berhidung pesek pipi tembem. " Ah ya enak lari, yuk ! Kalau tetap di kedemangan ya dibawa sama Raden Tumenggung yang berangsasan itu !" Warliyem menjawab tanpa diminta oleh Giyuk. " Kalau aku mau lho dibawa sama Raden Tumenggung itu, yem. Coba kalau Raden Tumenggung sudah lihat aku. Pasti aku dikejar pula." Kalimat ini oleh Giyuk diahkiri dengan tertawanya yang renyah. " Betul Yuk. Pasti raden Tumenggung akan sangat terpesona sama hidungmu yang mlesek dan pipimu yang tembem." Mendengar jawaban Mijan ini semua perawan tertawa renyah termasuk Giyuk. " Tidak hanya pipiku yang tembem lho kang Mijan. Punyaku juga tembem. Kalau Raden Tumenggung melihatnya pasti kemecer ingin .... " Kalimat Giyuk ini semakin meledakkan tawa para perawan. " Dasar kamu yuk ... yuk ... wong edan ... " Warliyem menyambung. 
Rembulan semakin meninggi. Suara celoteh anak - anak telah hilang. Para perawanpun satu - satu meninggalkan Mijan. Ketika Painah juga akan meninggalkan Mijan, buru - buru Mijan menggamit tangan Painah. " Mau kemanah, Nah ?" Mijan menatap wajah Painah yang disinari rembulan. Painah yang berhdung kecil dan mancung serta berbibir tipis ini juga membalas tatapan Mijan. " Ya mau pulang ta kang. Sudah malam." Painah pura - pura meronta mau melepaskan gamitan tangan Mijan. Painah sudah sejak lama menaruh hati kepada Mijan. Begitu juga Mijan yang tahu kalau dirinya disukai Painah sebenarnya menyambut kehadiran Painah di hatinya. Ketika mereka pada saat - saat tertentu berdekatan, dirasakan oleh Mijan maupun oleh Painah ada getaran mesra di hati mereka masing. Ketika suatu saat mata mereka tertumbuk Painah hanya bisa tertunduk malu, dan Mijan tersenyum. Keduanya sebenarnya saling jatuh hati. Hanya saja belum memperoleh kesempatan untuk saling mengungkapkannya. Mijan berharap malam ini bisa berdekat - dekat dengan Painah. " Kita pindah duduk di sana ya, Nah ." Mijan menunjuk ke arah timur dan ujung jari telunjuknya menunjuk batu besar di bawah pohon beringin yang daunnya sangat rimbun. " Disana gelap kang. Sepi." jawab Painah namun tidak menolak ketika tangannya digandeng Mijan melangkah menuju tempat yang ditunjuk. 
Rembulan yang semakin meninggi membuat tempat duduk Mijan dan Painah menjadi semakin gelap lantaran sinarnya terhalang rimbunnya daun pohon beringin. Painah yang telah berada di pelukan Mijan merasa hangat dan tentram. Jantungnya terus berdegup semakin kencang karena Mijan mulai mendekatkan bibirnya di bibirnya. Napas hangat Mijan sudah sangat dirasakan Painah di sekitar hudung dan bibirnya. Dan tidak ada perbuatan lain yang dilakukan Painah kecuali sedikit membuka bibirnya untuk menerima ciuman Mijan yang tadi telah mengungkapkan isi hatinya. Painah kemudian hanya bisa memejamkan matanya ketika bibirnya telah beradu dengan bibir Mijan. Dirasakannya hangat basah lembut bergerak penuh rasa cinta. Rasa hangat di bibir menjalar ke seluruh tubuh. Sampai - sampai Painah tidak menyadari kalau gunung kembarnya telah di remas tangan Mijan yang telah berhasil membuka kancing kain yang menututpi dadanya. Painah semakin pasrah seiring semakin nikmatnya rasa di tubuh. Ciuman Mijan berubah menjadi ciuman panas ketika tidak sengaja tangan Painah menyentuh senjata Mijan yang telah menggeliat berontah ingin keluar dari sarangnya. Painah yang tidak sengaja menyentuh senjata Mijanpun malah tidak menarik tangannya dari dekatnya dengan senjata Mijan. Painah malah tertarik untuk mengelusnya. Painah nekat mengelus. Mijan menjadi menggila. Ciumannya menjadi semakin liar. Remasan - remasanny di gunung kembar Painah tidak terkendali. Napas Mijan bagai napas banteng marah. Tangan Mijan pun semakin melorot ingin membalas Painah yang telah juga nekat meremas - remas senjatanya. Dan kain Painahpun segera kendor oleh tangan Mijan yang telah hilang kesabarannya. Mijan segera menemukan milik Painah. Mereka segera saling melenguh, mendesah, menggelinjang. Tidak lama kemudian mereka saling mengerang. Tangan Painah basah oleh cairan kental senjata Mijan, dan tangan Mijan kebanjiran air kenikmatan yang diesemburkan milik Painah.


masih ada kelanjutannya ................
Candra Mawa 

                                                                                                     edohaput

16

Pengakuan dua penjaga pintu penjara Kepatihan membuat Giyem ditangkap dan dipenjarakan. Giyem dianggap menjadi penyebab kaburnya Diman dari penjara Kepatihan. Tumenggung Suro Blasah menyimpulkan Giyem bekerja karena disuruh orang untuk mengelabuhi penjaga. Giyem bekerja untuk membuat lalai penjaga. Malam itu Giyem pasti bekerja dengan baik. Kalau tidak mana mungkin dengan mudahnya Diman bisa dibawa pergi oleh sang penolongnya. Tumenggung Suro Blasah juga bisa menerka jika yang menjemput Diman ini bukan orang sembarang. 
Di dalam penjara Giyem tersiksa. Setiap malam menjadi santapan prajurit - prajurit yang diperintah untuk mengintrogasinya. Giyem banyak tutup mulut. Prajurit - prajurit yang gemas dan jengkel ahkirnya menelajangi Giyem dan menggarapnya bersama - sama. Giyem tersiksa. Giyem jijik. Tetapi Giyem juga menikmatinya. Giyem yang sudah lama menjanda karena ditinggal mati suaminya yang berjuang bersama Pangeran Diponegoro, malah selalu menikmati perkosaan yang dilakukan prajurit - prajurit kepatihan yang menanyainya. Malam demi malam Giyem tetap bungkam. Karena dengan tetap bungkam prajurit menjadi gemas dan jengkel dan ahkirnya memperkosanya. Dan Giyem senang, karena memperoleh kenikmatan. Tidak ada prajurit yang menyakitinya. Paling - paling mengancam mau membunuhnya. Tetapi yang dilakukan kemudian malah memberinya kenikmatan. 
Karena para prajurit yang diperintahnya tidak mampu mengorek keterangan dari Giyem, Tumenggung Suro Blasa turun tangan sendiri. Giyem harus membuka mulutnya. Giyem harus mengaku. Tumenggung Suro Blasah tanpa diikuti begundalnya masuk ke penjara dimana ada Giyem dan menutup pintu penjara rapat - rapat agar tidak ada orang yang bisa masuk. Jika mulut Giyem tidak mau mengaku Tumenggung Suro Blasah berniat menyiksa Giyem habis - habisnya. Bahkan kalau perlu menghabisi nyawanya. 
Melihat Tumenggung Suro Blasah masuk di penjaranya, Giyem yang sore tadi memperoleh makanan enak dan juga memperoleh kesempatan mandi sangat kaget melihat Tumenggung Suro Blasah datang dengan membawa pedang telanjang ke penjaranya. Giyem yang duduk di sudut ruangan penjara mendadak sontak langsung berdiri surut semakin ke pojok ruangan penjara yang sempit. Kedua telapak tangannya segera dirapat satu sama lain dan diposisikan di depan hidungnya sambil membungku - bungkuk. Giyem menyembah - nyembah Tumenggung Suro Blasah yang tinggi besar, berkumis tebal dan bermata tajam bagai mata singa galak. Giyem tidak berani menatap wajah Tumenggung Suro Blasah. Yang dilakukan Giyem kemudin berlutut di depan Suro Blasah sambil tetap menyembah - nyembah. " Berdiri ... !" Bentak Suro Blasah menggelegar di telinga Giyem. Giyem perlahan berdiri sambil tetap telapak tangangnya mengatup di depan hidung. " Lepasi semua kain yang kamu kenakan ... !" Bentak Suro Blasah lagi. Giyem ragu - ragu. Dan kedua telapak tangannya tetap mengatup di depan hidungnya. " Lepasi ... !!" Bentak Suro Blasah Semakin keras. Giyem lambat menurunkan tangan dan dengan lambat pula melepasi kancing kancing kain yang menutupi tubuh bagian atasnya. " Cepaaat ... !!" Suro Blasah menggelegarkan suaranya. Giyem takut. Giyem mempercepat kegiatannya melepas kain atasnya dan manjatuhkan kainnya di dekat kakinya. Giyem telanjang dari pundak sampai di atas pusarnya. Tangan Giyem sedekap menutupi gunung kembarnya. " Buka tanganmu ... Giyem ... !!" Lagi - lagi Suro Blasah membentak. Giyem menyingkirkan tangannya dari gunung kembarnya. Mata Suro Blasah membelalak menatap Gunung kembar yang berputing merah milik Giyem. Tumenggung Suro Blasah menelan ludah. Ternyata payudara milik janda muda ini masih seperti milik perawan. Kencang dan tegak menggunung. Payudara yang tidak besar tetapi juga tidak kecil. Tiba - tiba aliran darah di tubuh Suro Blasah menjadi semakin cepat kerana jantung berdegup semakin cepat, dan membuat napasnya memburu. Napas birahi memburu terdengar di telinga Giyem. Giyem menjadi tersenyum dalam hati. Kena kau Suro Blasah pikir Giyem. Tumenggung Suro Blasah mengangkat pedangnya yang terhunus dan menempelkan di payudara Giyem. Ada rasa dingin dirasakan Giyem karena pedang tajam menempel di buah dadanya yang telanjang. " Katakan Yem. Siapa yang menyuruhmu mengelabuhi penjaga pintu penjara. Katakan ... !!" Suro Blasah serak membentak karena napasnya semakin memburu melihat dada Giyem. " Jika kamu tidak katakan penthilmu ini akan kuiris - iris. Cepat katakan !" Bentak Suro Blasah parau sambil mengelus - eluskan dengan hati - hati pedang di penthil Giyem. Giyem bungkam. Giyem tahu kalau Suro Blasah tidak akan menebas penthilnya dengan pedangnya. Suro Blasah hanya mengancam seperti yang lainnya. Justru nanti Suro Blasah malah akan menimang - nimang penthilnya. " Katakan Yem ... !" Suara Suro Blasah bergetar. Marah. Giyem tetap bungkam. Tiba - tiba Suro Blasah menjauhkan mata pedang dari gunung kembar Giyem dan mengayunkan pedang dengan cepat da berkelebat. Giyem kaget dan menjerit. Braaakk ... . Pedang tajam Suro basah menghantam juruji penjara yang terbuat dari kayu dan mematahkannya. Kayu berantakan di lantai penjara. " Edan kamu Yem. Berani mati kamu ya ...!" Suara Suro blasah semakin parau dan napasnya semakin ngos - ngosan. Suro Blasah sudah dirasuki birashi. Tombaknya yang ada di dalam celana menggeliat. " Lepaskan kain bawahmu Giyem ... !" Suro Blasah lagi - lagi membentak dan sambil meletakkan mata tajam pedang di pundak Giyem yang telanjang, seolah - olah mau memenggal leher Giyem yang jenjang.  " Cepaaaat !" Suara Suro Blasah tertahan. Kain bawah Giyem melotrok ke bawah. Berjuntai di telapak kakinya. Giyem bulat telanjang. Mata Suro Blasah terbeliak melihat milik Giyem yang ternyata menonjol tembem dan di atasnya ada rambut rambut yang tidak begitu lebat. Sehingga belahan bibirnya yang masih rapi terlihat oleh mata Suro Blasah yang semakin membeliak. " Katakan Yem ... kalau tidak lehermu akan putus ... !" Suro Blasah memainkan mata pedang di leher Giyem dengan hati - hati. Giyem tetap bungkam. Giyem percaya Suro Blasah tidak akan memenggal lehernya. Justru nanti pasti akan mencupang - cupangnya dengan bibirnya yang tebal. Suro Blasah menarik mata pedang dari leher Giyem yang jenjang telanjang dan mengayunkannya kuat - kuat. Sekali lagi Giyem menjerit. Pedang tajam Suro Blasah kembali menghantam jeruji penjara. Braaak ... . Patah berhamburan jeruji penjara. Kemudian dengan kuatnya Suro Blasah mebanting pedangnya dan terpental keluar ruangan menimbulkan suaran gemerincing. Tangan Suro Blasah beralih mencopot obor yang menancap di pagar penjara. Dipegangnya obor yang api berkilat - kilat tertiup angin malam yang menerobos masuk ruangan penjara. " Kangkang ... !" Suro Blasah minta Giyem berdiri sambil ngangkang. Giyem tidak tahu maksud Suro Blasah. Yang ada di pikiran Giyem pasti lelaki bertubuh tinggi besar ini akan menjamah miliknya. Ternyata tidak. Suro blasah menempatkan api obor di bawah selangkangannya. Giyem merasakan selangkangannya hangat oleh api obor. " Yem ... jika kamu tidak mau mengaku ... akan aku brongot milik kamu !" Suro blasah pelan - pelan mendekatkan api obor ke tengah selakangan Giyem. Karena diobori bentuk indah milik Giyem justru semakin mempesona Suro Blasah. Napas Suro Blasah semakin terengah - engah. Giyem tetap bungkam. Giyem percaya Suro Blasah tidak akan membakar miliknya. Justru nanti akan mengelus - elusnya. Mengiliknya, dan meneroboskan jari tengahnya yang besar dan panjang di lubang kenikmatan miliknya. " Katakan yem ... !" Suro Blasah semakin mendekatkan api obor ke milik Giyem di tengah selangkangan. Giyem tidak lagi hanya merasakan hangatnya api, tetapi rasa panas mulai dirasakan. " Cepat Yem katakan ... sebelum aku membrongot milikmu ... !" Suro Blasah nekat mendekatkan api obor ke milik Giyem. Panas api semakin dirasakan Giyem di miliknya. Suro Blasah semakin mendekatkan api obor ke milik Giyem. Panasnya api obor yang semakin mendekat ke miliknya yang ada di tengah selangkangannya membuat Giyem tidak tahan. Selangkannya serasa terbakar. Giyem menjerit dan minta ampun. " Ampun den Tumenggung ampun ... ampun den ..." Giyem menggelinjang dan mau menutup selangkanganya, tetapi kaki kuat suro Blasah menahannya dan semakin mendekatkan api obornya ke milik Giyem. " Katakan Yem ... katakan ... sebelum aku nekat membrongot milikmu !" Sambil tangan Suro Blasah yang lain mencengkeram pundak Giyem. Ajkirnya jebol juga yang dipertahankan Giyem. " Den Bardan, den ... den Bardan .... den Tumenggung ... !" Giyem menjerit kepanasan. Mendengar pengakuan Giyem, Suro Blasah segera membuang obor jauh dari tubuh Giyem. Segera ditariknya tubuh Giyem. Suro Blasah yang sejak tadi sudah tidak tahan segera membanting tubuh Giyem di lantai penjara yang hanya beralas jerami. Dan setelah melepas celana keprajuritannya Tumenggung Suro Blasah segera menubruk tubuh Giyem. Bagai singa lapar seluruh tubuh Giyem menjadi santapan mulut Suro Blasah yang terus mengeluarkan air liurnya. Kecipak mulut Suro Blasah saling menutup dengan suara jeritan, rintihan dan desahan mulut Giyem. Giyem tertus meronta, menggelinjang dan polah tidak karuan. Lebih - lebih ketika dirasakannya miliknya disodok benda besar panjang kaku namum hangat dan lembut, yang terus melesak masuk dan mengaduk - aduk kedalaman miliknya.  Dan yang dirasakan Giyem kemudian hanya tubuhnya serasa melambung - lambung dan ada kenikmatan yang tiada taranya di sekujur tubuhnya. 

masih ada kelanjutannya ................

Selasa, 03 September 2013

Candra Mawa 

                                                                                               edohaput 

15
Bardan membawa Sekarsari ke Gunungpring. Dirinya tidak mungkin meninggalkan Sekasari sendirian. Di hari lain prajurit Kepatihan dan Suro Blasah pasti akan kembali ke tempat Diman ditemukan. Suro Blasah tidak mungkin tidak kembali untuk menemukan Sekarsari. Bardan harus membawa Sekarsari. Tujuan Bardan adalah akan menitipkan Sekarsari dan bayinya di tempat persembunyian Ki Surojoyo. Bardan percaya di dekat Ki Surojoyo Sekarsari dan bayinya akan terlindungi. Membawa Sekarsari ke Tambi untuk dititipkan di pondok mboknya terlalu jauh menempuh perjalanan. Sekarsari yang baru saja melahirkan tidak mungkin diajak berjalan sejauh itu. Ki Surojoyolah harapan satu - satunya yang bisa sementara melindungi Sekarsari dan bayinya. 
Setelah melewati tempuran sungai Lamat dan sungai Blongkeng dan menghindari bertemunya dengan orang - orang, tengah hari Bardan sampai di pondok kecil Ki Surojoyo. Pondok kecil yang sangat sederhana. Pondok kecil yang berada di tengah - tengah rimbunya rumpun bambu. Hanya Bardan yang mengetahui pondok ini. Tidak biasanya Bardan datang mampir di pondok Ki Surojoyo ini pada siang bolong. Baru sekali ini dirinya datang ke pondok persembunyian Ki Surojoyo ketika matahari masih nampak. Jika saja tidak karena mengantar Sekarsari tidak mungkin Bardan mendatangi Ki Surojoyo pada siang hari. Bardan sangat tidak ingin tempat persembunyian Ki Surojoyo ini diketahui orang. Ki Surojoyo adalah orang yang sangat dicari para prajurit Belanda dan prajurit Kepatihan. Ki Surojoyo yang sudah sangat diketahui malang - melintangnya ketika perang Diponegoro terjadi, dan banyak menyedarai bahkan banyak menghabisi prajurit Belanda, prajurit Keraton Mataram, dan prajurit Kepatihan masih sangat dianggap sebagai ancaman. Bahkan penangkapan terhadap Ki Surojoyo dan Bardan pernah pula disayembarakan. Bagi siapa saja yang bisa menangkap hidup - hidup atau mati Ki Surojoyo dan Bardan akan mendapatkan penghargaan sekantung besar kepingan emas dari Kepatihan Mataram. Bardan tahu kalau sayembara ini telah tersebar ke seantero wilayah Keraton Mataram. Bardan juga tahu kalau sudah ada orang - orang yang terus menyoba menyari keberadaan Ki Surojoyo dan keberadaan dirinya. " Apa rencanamu selanjutnya Bardan ?" Ki Surojoyo sambil mengamati bayi di pangkuan Sekarsari lelap tertidur. Bardan tidak menjawab pertanyaan Ki Surojoyo dan pandangan matanya melirik ke Sekarsari yang duduk di dekatnya. " Sebaiknya kamu beristirahat di belakang Sari, kasihan bayimu. Itu masih ada singkong rebus. Makan saja untuk mengisi perutmu." Ki Surojoyo minta Sekarsari istirahat di rumah belakang yang segera tanpa diminta ulang Sekarsari bersama bayinya segera beranjak dan menyingkir dari Ki Surojoyo dan Bardan yang akan berbicara rahasia yang dirinya tidak boleh tahu. Sekarsari tahu diri. Ketika dirinya dilirik mata oleh Bardan, dan Bardan tidak segera menjawab pertanyaan Ki Surojoyo, Sekarsari tahu kalau dirinya tidak boleh mendengar apa yang akan dipercakapkan mereka. " Saya harus membebaskan Diman suami Sekarsari, Ki. Diman saat ini pasti ditawan di penjara Kepatihan." Bardan menjawab pertanyaan Ki Bardan dengan lirih agar Sekarsari tidak mendengarnya. " Aku percaya kamu bisa melakukannya, Bardan. Tetapi waspada dan hati - hati. Jangan menyedarai prajurit bahkan menghabisinya jika tidak sangat terpaksa, Bardan. Kita sekarang sudah tidak lagi berada di jaman peperangan." Ki Bardan menatap tajam mata Bardan. Bardan memaknai tatapan tajam Ki Surojoyo yang juga salah satu gurunya ini sebagai satu peringatan. Bardan ingat di tahun - tahun peperangan, jika saja tidak karena dicegah oleh gurunya ini dirinya pasti sudah lebih banyak menghabisi prajurit Belanda dan prajurit Kepatihan yang dijumpainya dan dihadapinya di peperangan. Pedangnya selalu mengayun dan menebas tanpa ampun. Siapa saja yang berada di hadapannya tidak perduli prajurit Kepatihan, tidak perduli prajurit Belanda selalu dengan mudah dicederainya. " Kapan Bardan kamu melaksanakannya, Bardan ?" Ki Surojoyo tetap menatap tajam mata Bardan. " Malam nanti Ki. Maka sebelum matahari miring, saya pamit. Restu Ki Suro saya minta." Bardan menunduk dan kemudian bersujud di hadapan Ki Surojoyo duduk.
Tanpa berpamitan dengan Sekarsari, Bardan segera meninggalkan Ki Surojoyo yang mengantarkan sampai di depan pintu pondok. Bardan segera lenyap dari pandangan Ki Surojoyo karena rimbunya rumpun bambu. Bardan segera menyebarang sungai blongkeng melompat ke tebing sungai dan segera menerabas hutan gunungsari. Setengah berlari dan bahkan kadang - kadang melompat dari tempat yang satu ke tempat yang lain, bahkan tidak jarang pula harus bergelayutan di dahan pohon supaya tubuhnya bisa terlempar jauh ke depan. Sebelum matahari di telan bumi Bardan harus sudah sampai di dekat Kepatihan. 
Menunggu semakin larutnya malam Bardan bersembunyi di dahan pohon sawo di belakang benteng Kepatihan. Pohon sawo kecik yang sangat rimbun melindung Bardan dari mata orang. Dan memang tidak akan ada orang mengira akan ada orang bersembunyi disana. Mata Berdan terus mengawasi ke bawah. mengawasi benteng  Kepatihan yang di setiap pintu masuk ada dua prajurit yang berjaga. Sisi belakang benteng Kepatihan Sepi. Di depan pintu kayu yang tertutup rapat berdiri dua prajurit Kepatihan. Pintu belakang benteng Kepatihan ini sudah sangat dihafali Bardan. Pintu ini menghubungkan dengan lorong yang berhubungan dengan penjara. Malam semakin merangkak jauh. Bardan melihat Giyem dengan obor kecil mendatangi dua prajurit penjaga. Mereka segera terlibat pembicaraan. Bardan tidak mendengar apa yang dibicarakan. Tetapi sebentar kemudian Giyem melangkah ke tempat yang jauh dari cahaya lampu dan diikuti dua prajurit penjaga pintu. Di bawah pohon beringin dan di atas batu ceper Giyem segera didudukan dan dipegangi oleh dua prajurit penjaga yang masing - masing tangannya segera sibuk di tubuh Giyem. Bardan sempat mendengar Giyem minta agar prajurit penjaga tidak tergesa. " Alon - alon saja kang. Pelan - pelan saja biar enak. Aku emoh kalau kakang - kakang kasar. Nah gitu kang yang halus. Aaaahh ... jangan kesitu dulu kang. Jangan langsung. Aku dipeluk dulu. Diciumi dulu. Yang lama ya kang. Biar aku marem." Kalimat dari Giyem ini masih sempat samar - samar di dengar Bardan. Bardan hanya bisa tersenyum geli. Dan matanya samar - samar menangkap pula dua prajurit penjaga yang mulai mengendorkan kain yang dikenakan Giyem. Satu prajurit segera menyiumi pipi dan bibir Giyem, satu prajurit yang lain memasukkan tangannya di balik kain yang menutupi dada Giyem dan sambil berusaha mengeluarkan tombaknya agar bisa dipegangi dan diremas - remas oleh tangan lembut Giyem. Prajurit yang menyiumi pipi dan bibir Giyem tangannya mulai merogoh menyelusup ke kain bawah. Bardan masih sempat pula melihat Giyem menggeliat dan terdengar desahnya. Bardan tidak mau berlama - lama melihat adegan ini. Bagai melayang tubuh Bardan meluncur ke bawah dari atas pohon sawo. Dan bagai kapas jatuh sama sekali tidak menimbulkan suara kaki Bardan menginjak tanah. Ringan Bardan melompat ke pintu yang tadi dijaga dua prajurit. Setelah melawati lorong gelap yang hanya diterangi lampu - lampu minyak yang menyala kecil, dengan mudah Bardan menemukan Diman yang berada di dalam sel dengan jeruji kayu. Ciri - ciri Diman yang disebutkan Sekarsari memudahkan Bardan mengenali Diman. Setelah dengan mudah dan tanpa banyak menimbulkan suara gaduh Bardan bisa dengan mudah mematahkan jeriji sel, segera membangunkan Diman yang terlelap tidur. " Sekarsari isterimu dan anakmu sudah aman, sekarang ayo kita keluar !" Bisik Bardan di telinga Diman. Diman yang sempat kaget, bingung dan ragu segera tersadar dan segera mengikuti langkah Bardan dengan hati - hati. Sampai di depan pintu beteng Bardan sempat melihat dua prajurit yang sedang bersama Giyem. Satu prajurit menindih Giyem yang mengangkang dan satu prajurit lagi sedang berdiri sambil memegangi tombaknya yang segera akan mendapat giliran menancap di milik Giyem. Bardan tersenyum geli. Dan senyuman Bardan ini tidak terlihat oleh mata Diman yang memandangi ke segala arah tanda bingung. Bardan segera menggandeng tangan Diman dan segera meninggalkan tempat dengan langkah yang setengah berlari. Setelah  cukup jauh melangkah Bardan berhenti dan menghampiri sebuah rumah. Menyelipkan kantong hitam kecil yang berisi beberapa kepingan perak dan emas. Dan kantong ini nanti akan diambil Giyem setelah selesai dengan dua prajurit penjaga.

masih ada kelanjutannya ..................




Candra Mawa 

                                                                                               edohaput 

14 

Bardan menyebarangi sungai Progo berjalan ke arah utara. Langkah Bardan menuju Gunungpring. Bardan tahu karena pernah singgah disana. Di lereng sisi timur Gunungpring, berada di tepian sungai Blongkeng, tinggal Ki Surojoyo. Ki Surojoyo adalah salah satu gurunya yang telah banyak mengajarkan ilmu jaya kawijayan terhadap dirinya. Ki Surojoyo juga salah satu pembantu setia dari Pangeran Diponegoro. Paska perang dan paska ditangkapnya Pangeran Diponegoro oleh Belanda, Ki Surojoyo juga lari dari Mataram karena juga dikejar - kejar pasukan Belanda dan prajurit kepatihan. Ki Surojoyo kemudian bersembunyi di lereng Gunungpring di pinggiran sungai Blongkeng yang banyak ditutupi oleh pohon - pohon besar, di tengah rimbunnya pohon bambu dan dari Mataram sangat sulit dijangkau karena sebelum sampai di Gunungpring harus menerabas hutan Gunungsari. Sejak berada di Gunungpring Ki Surojoyo tidak pernah lagi ke Mataram. Ki Surojoyo sudah merasa aman dan tentram di Gunungpring. Ki Surijoyo berniat mendito, meninggalkan keduniawian dan ingin tentram sebagai manusia uzur yang ditunggu kubur. 
Langkah Bardan terhenti di dekat Candi Ngawen. Sekitar Bangunan Candi yang sebagian telah tertutup tanah pasir luapan dari Sungai Blongkeng yang berhulu dari gunung Merapi tampak sepi. Bangunan candi nampak tidak terawat. Disana - sini batu - batu candi runtuh. Arca - arca ambruk. Nampak candi sudah tidak lagi dipergunakan untuk kegiatan ritual keagamaan. Di sekitar candi hanya ada satu bangunan rumah kayu. Suara dari dalam rumah kayu itulah yang membuat langkah Bardan terhenti. Bardan mendengar erangan perempuan yang memanggil - manggil nama. Erangan sambil mengaduh semakin jelas di telinga Bardan. Bardan mendekati sumber suara. Bardan berada di depan pintu rumah. Bardan mengintip ke dalam. Dilihatnya oleh mata Bardan ada perempuan terlentang di lantai rumah dan hanya beralas tikar sedang berjuang untuk melahirkan anaknya. Dimana gerangan orang lain. Dimana pula suaminya. Sampai - sampai tidak menunggui isterinya yang sedang akan melahirkan anaknya. Bardan ragu. Akankah dirinya masuk ke rumah dan menolong perempuan yang sedang berjuang ini. Bisakah dirinya membantu orang yang akan melahirkan anak. Bardan mengambil keputusan masuk rumah. Setidaknya dirinya akan menemani perempuan ini. Begitu pintu terbuka dan Bardan nampak di mata perempuan ini : " Kang ... kang Diman ... aduh ... kang tolong kang ... sakit kang !" Tangan perempuan yang sedang menghadapi perjuangan ini menggapai - gapai. Bardan segera berjongkok di samping perempuan. Dan perempuan ini kaget karena orang yang disangkanya suaminya ternyata bukan. " Kang Diman suami mbakyu, ya ?" Bardan memegangi tangan perempuan ini. " Benar dik ... benar ... aduh dik sakit, tolong ! Sampean siapa ? Tolong ... aduh ... !" Perempuan ini semakin kuat mencengkeram tangan Bardan. Tanpa ragu Bardan segera mengendorkan kain yang meliliti perempuan ini. Bardan kemudian menekuk kedua lutut perempuan dan mengangkangkan pahanya. Mata Bardan bisa melihat perut perempuan sampai pada yang ada di antara kedua pahanya. Air ketuban yang telah pecah membasahi tikar. " Ambil napas panjang mbakyu, dan dorong kuat ! Ayo Yu dorong !" Bardan mengamati jalan yang akan dilewati bayi. Mulai membuka. Perempuan mengedan dan mengerang dengan keras. Bardan melihat kepala bayi mulai nongol. " Dorong lagi kuat -  kuat mbakyu . Dorong !" Bardan melihat tubuh bayi sudah keluar separo. Perempuan semakin mengedan. Dan Broool ... tubuh bayi lahir dari rahim ibunya diikuti keluarnya tali pusar dan ari - ari. Tangis bayi keras menutup erangan ibunya yang mendorongnya keluar. Bardan bingung apa yang akan dilakukan kemudian. Untung saja Bardan ingat cerita - cerita mboknya tentang kelahirannya. Tentang memotong tali pusarnya. Tanpa pikir panjang lagi Bardan segara menghunus pedang dari sarungnya dan memotong tali pusar si jabang bayi. Apalagi yang harus dilakukan. Kembali Bardan bingung. " Dik sampean tolong ambil air di sumur belakang rumah. Mandikan anakku." Lemah perempuan yang  telah lepas dari perjuangannya ini meminta Bardan. 
Bardan memandikan bayi. Menghangatkannya dengan kain. Mengangkat tubuh ibu bayi dan ditempatkan di amben. Membersihkan ibu bayi dengan air sumur. Memberikan bayi untuk dipeluk ibunya. Membungkus ari - ari. Menggulung tikar tempat ibu bayi melahirkan anaknya dan menanamnya di pekarangan rumah. 
Matahari segera akan turun dan hilang di balik perbukitan Menoreh. Tidak ada tanda - tanda orang datang. Bardan hanya bisa tertegun. Ternyata rumah kayu sebelah juga kosong. Suasana dalam rumah semakin gelap. Bardan menyulut lampu untuk menerangi ruangan. Ibu bayi menyusui. Bardan melihat lahapnya si bayi laki - laki lahap menyedot puting susu ibunya. Sang ibu tidak malu - malu membuka kantung susu anaknya yang tadi sebelum disusu anaknya telah dilap - lap oleh orang yang baru dikenalnya. Bahkan tangan Bardan tadi sempat menyentuh - nyentuh kantung susu milik si bayi. 
" Terima kasih dik. Sampean telah menolong saya. Saya tidak bisa membalas kebaikan sampean. Sebenarnya sampean ini siapa, dik ?" Sambil memindahkan mulut bayinya ke puting susu lainnya. " Saya Bardan, mbakyu." Bardan yang duduk agak jauh dari ibu dan bayinya  menjawab jujur. Bardan menatap ibu bayi dengan seksama. Mata Bardan yang tidak diterangi lampu sangat tidak kentara kalau sedang menatap dan mengawasi. Ibu bayi ini cantik. Muda layaknya perawan. Sebenarnya tidak sepatutnya dirinya menyebut ibu bayi ini dengan sebutan mbakyu. Bardan percaya kalau ibu bayi ini lebih muda beberapa tahun darinya. Hanya karena sudah punya suami Bardan memanggil dengan sebutan mbakyu. " Kang Diman suami mbakyu kemana ?" Bardan terus menatap wajah ibu bayi. Bardan melihat seraut wajah yang nampak bukan raut wajah orang kebanyakan. Berdan menangkap raut wajah yang cantik. Dan ada sesuatu yang membedakan dengan raut wajah orang kebanyakan. Ibu bayi tidak segera menjawab. Matanya mengarah ke Bardan yang duduk tidak diterangi lampu. Bardan melihat mata ibu bayi menitikkan air mata. Bibirnya tampak bergetar. Bardan mengerti ibu bayi ini sedih. Tetapi Bardan tidak bisa menerka mengapa Diman meninggalkan isterinya. Sampai - sampai saat isterinya melahirkan tidak ditungguinya. Siapa Diman ini sehingga tega meninggalkan isterinya yang ternyata cantik. Setelah beberapa saat terisak dan kembali ibu bayi bisa mengendalikan diri kalimatnya tertahannya muncul dan tetap dengan nada terbata - bata : " Namaku Sekarturi, dik Bardan. Aku  anak Demang Godean. Aku dan kang Diman melarikan diri dari kademangan Godean. Aku dan kang Diman sudah satu kata untuk hidup bersama. Tetapi Raden Tumenggung Suro Blasah menginginkan aku untuk dibawanya ke Kepatihan untuk dijadikan bedinde Walanda di tangsi." Kembali Sekarturi tidak bisa menahan tangisnya. Kali ini malah sesenggukan. Bardan terdiam. Giginya beradu gemeretak. Rasanya Bardan ingin segera lari ke Mataran menyari Tumenggung Suro Blasah dan menghajarnya. Memenggal kepalanya. Menyincang - nyincang tubuhnya. Tumenggung Suro Blasah tidak boleh dibiarkan. Tumenggung Suro Blasah harus dihabisi. " Tolong dik, bawa aku dan anakku kemana saja. Karena Kang Diman sudah tidak mungkin kembali ke rumah ini. Kang Diman telah dirangket oleh prajurit Kepatihan yang terus menyari. Untung saja aku bisa bersembunyi di tengah hutan bambu. Jika tidak aku juga pasti sudah ikut di rangket, dik Bardan. Tolong ... aku ... tolong dik Bardan." Kembali Sekarturi sesenggukan sambil memeluk bayinya yang belum punya nama. 

masih ada kelanjutannya ..................




Sabtu, 31 Agustus 2013

Candra Mawa 

                                                                                             edohaput

13

Menjelang tengah hari Legino dan Mijan yang menyamar sebagai orang yang menyari kayu bakar dan penyari rumput, setelah menyusuri kali yang panjang berliku dan berbatu, sampailah di pinggiran kali tepat di belakang pondok Nyi Tambi. Antara pinggiran kali dengan pondok Nyi Tambi dibatasi oleh luasnya kebun obat. Mata Legino terus mengawasi kebun obat dimana ada beberapa cantrik yang sedang bekarja disana. Begitu juga mata Mijan. Mata Mijan tidak bisa lepas dari para cantrik perawan yang berkain lurik. Polah tingkah para cantrik perawan menjadi santapan mata Mijan. Mijan menelan ludah. Para perawan cantrik yang terlihat dari jarak cukup jauh ini dimata Mijan nampak cantik - cantik. Wajah mereka bersih. Rambut hitam legam. Mata mereka tampak bulat bersinar. Postur tubuh indah. Tinggi semampai dengan dada - dada umumnya besar. Perut nampak kecil dan membesar di sekitar pinggul dengan pantat yang umumnya besar dan nampak padat. Rasanya Mijan ingin segera naik dari pinggiran kali dan mendapati para perawan cantrik lebih dekat. Mata Mijan tidak berkedip. Legino yang semakin percaya bahwa itu adalah pondok Nyi Tambi yang pernah didengarnya. Legino pernah mendengar kabar Nyi Tambi adalah ahli jamu dan obat. Banyak orang datang ke pondok Nyi Tambi. Tetapi baru kali ini Legino melihat pondok Nyi Tambi. Itu saja dari arah belakang. Legino tidak melihat pondok Nyi Tambi dari arah depan. " Kang perawan - perawan berkain lurik itu cantik - cantik banget ya kang." Mijan menunjuk - nunjukkan jarinya ke arah para perawan cantrik. Legino buru - buru memegangi tangan Mijan dan menurunkannya. " Husst ... jangan nunjuk - nunjuk Jan. Jangan membuat tingkah mencurigakan. Kita ini penyari rumput dan kayu. Jangan bertingkah aneh - aneh. Kalau penyamaran kita diketahui jangan - jangan kita tidak dapat apa - apa. Awasi saja tapi jangan terlalu kentara !" Legino mengingatkan Mijan dengan suaran yang ditahan. Mijan sadar kalau dirinya hampir - hampir kelepasan karena melihat perawan - perawan cantik di kebun obat.  Mijan kemudian membungkuk - bungkuk berjalan menyari tempat yang lebih tinggi agar matanya lebih bisa mengawasi. Legino juga berusaha memanjat tebing pinggiran  agar bisa matanya lebih leluasa memandang ke arah kebun. Belum sempat Legino menapakkan kakinya dengan benar di bibir tebing, tubuhnya bergetar, jantungnya berdetak keras dengan tiba - tiba, dan tubuhnya serasa akan terjengkang jika saja tangannya tidak segera meraih akar pohon yang menonjol. Mata Legino menangkap perawan cantik. Berkulit bersih, putih. Dengan kain lurik. Rambut yang sebahu tergerai indah dipermainkan angin. Tubuh indah dan wajah ayu yang sangat tidak asing dipikiran Legino. Perawan yang diimpikannya. Perawan yang diidamkannya. Perawan yang membuat dirinya jadi kurang suka dengan Pini yang telah dipacarinya lebih dulu. Pini yang pertama kali membuat dirinya merasakan kenikmatan bersama perawan. Mata Legino menangkap Daruni yang keluar dari pintu pondok. Daruni berjalan ke arah kebun. Dan dipikiran Legino Daruni mendekatinya. Detak jantung Legino membentur - bentur tulang dadanya. Menjadikan napas Legino tersengal. Legino kehilangan konsentrasi. Tangan yang memegangi akar pohon terlepas. Legino terjengkang dan terjerembab di bawah tebing yang dipanjatnya. Untung saja di bawah tidak ada batu. Legino segera bangkit dan berlari membungkuk ke arah Mijan. Ditariknya tangan Mijan. Diajaknya Mijan bersembunyi di balik batu besar di kali. " Dugaan kita benar Jan. Benar. Daruni ada di pondok itu !" Legino tertahan - tahan karena napasnya masih tetap tersengal. Mijan melongo memandangi Legino yang tiba - tiba wajahnya menjadi pucat. " Sabar kang ... sabar ... ditata dulu napasnya." Mijan mengelus dada Legino. Legino mengambil napas panjang dan menghempaskan. " Sekali lagi kang. Nanti tidak tersengal lagi." Mijan meminta Legino mengulangi mengambil napas panjang. Berkali - kali Legino mengambil napas panjang dan menghempaskannya. Legino tidak lagi tersengal. " Jan. Daruni ada di pondok itu. Dugaan kita benar !" Legino tertahan dan matanya melotot. Mijan berdiri dan mau lari menuju tebing. Tetapi buru - buru tangannya digamit Legino. " Mau kemana Jan ?" Legino memelototi Mijan. " Mau lihat Daruni, kang." Legino kembali berjongkok di sisi Legino. " Jangan Jan. Diri kita tidak boleh dikenali Daruni." Legino masih memegangi tangan Mijan. " Terus ... ?" Mijan minta penjelasan Legino. " Kita segera tinggalkan tempat ini dan kita pulang ke Sawang Argo, Jan. Kita laporkan ke Ki Demang kalau Daruni ada di pondok Nyi Tambi." Legino melepas gamitan di tangan Mijan. Mijan melongo dan dahinya mengerinyit. " Ada apa Jan ? Kamu punya pendapat ?" Legino ingin tahu mengapa Mijan melongo dan mengerinyitkan dahi. Mijan Tidak segera menjawab. Malah pikirannya melayang. Mengapa Legino tidak langsung menjumpai Daruni dan mengajaknya pulang. Kalau saja Legino berani datang ke Nyi Tambi dan meminta Daruni untuk diajak pulang, pasti dirinya akan bisa berkenalan dengan perawan - perawan cantrik yang ayu - ayu itu. Dan kalau Nyi Tambi baik hati pasti akan mempersilahkan dirinya dan Legino menginap. Berarti akan semakin banyak kesempatan mengenal cantrik - cantrik berkain  lurik itu. Dan Mijan akan memilih perawan cantrik yang paling ayu. Lalu diajaknya berbicara banyak. Kemudian dirinya akan membuka jati dirinya. Dan akan menyombongkan kalau dirinya sebenarnya adalah prajurit kademangan Sawang Argo. Perjaka terampil olah pedang dan memiliki sawah luas dan kebun kelapa. Perawan cantrik ayu tertarik. Dan terpesona dengan kesombongan Mijan. Perawan cantrik ayu yang telah terkelabuhi lalu diajaknya berjalan - jalan mengitari kebun obat. Digandengnya perawan cantrik. Dan perawan cantrik tidak menolak tangan dipegang Mijan. Malah dengan lengketnya lalu menempelkan kepalanya di pundak Mijan. Tanpa ragu - ragu Mijan segera merangkul punduk cantrik ayu. Dan tangannya yang merangkul segera bisa menyentuh gundukan di dada perawan cantrik. Perawan cantrik tidak menghindar. Malah senang gundukan di dadanya disentuh - sentuh dan dicolek jari - jari Mijan walaupun masih berbatar kain lurik. Mijan semakin nekat diciumnya pipi perawan cantrik. Perawan cantrik tersipu - sipu malu dan tersenyum manja sambil menyediakan pipinya untuk dicium lagi. Dan Malah perawan cantik mengahadapkan mukanya ke wajah Mijan dengan mulut sedikit terbuka. Mijan semakin menggila. Dipeluknya perawan cantrik ayu. Dan tanpa melepas kesempatan dicumnya bibir perawan cantrik yang memerah basah. Sambil mencium bibir nan indah yang dirasakan begitu lembut dan wangi, tangan Mijan terus bergerak. Membukai kancing kain dan tangannya menerobos masuk menyentuh gundukkan yang halus, lembut dan kenyal. Mijan semakin tidak tahan menjadi menggila. Dikendorkannya kain bawah yang melilit perawan cantrik ayu. Perawan cantrik ayu tidak menolak. Perawan cantrik menggeliatkan tubuh dan semakin memepetkan tubuhnya ke tubuh Mijan. Mijan bisa merasakan lembut dan hangatnya perawan cantrik ayu. Tangan Mijan terus meluncur kemana - mana menelusuri lekuk tubuh perawan cantrik ayu. Setiap kali behenti meraba dan meremas gemas yang ditemukan tangannya. Perawan cantrik ayu hanya bisa semakin memepetkan tubuhnya di tubuh Mijan sambil melenguh, mendesah, dasn memintan Mijan terus berbuat. Mijan meminta perawan cantrik ayu rebah di rerumputan. Perawan cantrik ayu menurut. Tangan Mijan segera menyingkapkan kain bawah perawan cantrik ayu sampai ke pangkal paha. Mata Mijan bisa melihat halus, putih dan bersihnya paha perawan cantrik ayu. " Lho Jan. Gimana ta kok malah melamun. Jawab Jan kalau kamu punya usul !" Legino mendorong kening Mijan dengan jari telunjuknya. Mijan kaget. Lamunannya buyar, ambyar, pecah di awang - awang. " Ya ... ya ... ya ... ya kang kita pulang saja. Kita laporan ke Ki Demang, kang !" Mijan tergagap - gagap dan malu. Karena miliknya telah terlanjur menggeliat. Buru - buru Mijan berdiri dan memunggungi Legino. Mijan tidak mau Legino tahu apa yang tadi dipikirkannya. Lebih - lebih miliknya yang tiba - tiba menggeliat mau berontak.

masih ada kelanjutannya ....................



Selasa, 27 Agustus 2013

Candra Mawa 

                                                                                            edohaput 


12

Legino dan Mijan yang sudah berhari - hari berjalan keluar masuk desa, menerabas hutan, menuruni jurang dan kali, mendaki gunung - gunung kecil dan gumuk - gumuk belum bisa memperoleh tanda - tanda untuk bisa menemukan Daruni. Di setiap desa yang disinggahi dan kadang merupakan tempat menginap, Legino dan Mijan selalu banyak bertanya. Tetapi tidak ada jawaban yang bisa memberi harapan untuk Daruni bisa ditemukan. Sampai pada satu siang ketika keduanya hampir - hampir putus asa, ditemukanlah sebuah gubuk di atas gumuk." Aneh kang, di pinggiran hutan yang sangat tidak mungkin dikunjungi orang ada gubuk berdiri." Mijan mengawasi gubuk. Mengitari. Lalu masuk kedalam gubuk. " Kang ! Sini kang masuk ke gubuk !" Mijan meminta Legino yang masih berrdiri terpaku memandangi gubuk. Legino membungkuk dan masuk ke gubuk. " Kang ini ada rambut tertinggal." Mijan memegangi sehelai rambut panjang. " Ini rambut perempuan kang. Jangan - jangan ini rambut Daruni." Mijan menunjukkan rambut ke Legino. Legino hanya sekejap melihat rambut di tangan Mijan. Di pikiran Legino sangat mungkin itu rambut Daruni. Tetapi bagaimana cara Daruni sampai di tempat ini. Sedangkan dirinya saja yang laki - laki sangat susah menyapai tempat ini. Apalagi seorang perawan seperti Daruni. Kalaupun bisa dan benar Daruni sampai di gumuk ini, lalu siapa yang membuat gubuk ini. Tidak mungkin tangan mungil Daruni bisa membuat gubuk ini. Lagi pula gubuk ini ternyata dibuat dengan rapi. Dan pelepah - pelepah kelapanya dipotong dengan rapi. Daruni secara sendiri tidak mungkin bisa memanjat pohon kelapa , sekalipun pohon kelapa yang masih muda dan pendek. Legino sangat mengenal Daruni yang manja. Yang serba dilayani. Yang tangannya tidak pernah menyentuh pekerjaan kasar. Dan Legino tahu Daruni tidak terampil menyanyam. Ini gubuk dinding - dindingnya terbuat dari pelepah daun kelapa yang dianyam rapi. Jika benar yang dipegang Mijan adalah rambut Daruni pasti ada lelaki yang menemani Daruni. Lalu siapa lelaki itu. Lagi - lagi Legino mengamati gubuk. Mata Legino tertumbuk pada alas yang ada di dalam gubuk. Berupa daun kelapa yang juga dianyam dan ditumpuk - tumpuk laksana kasur. Sudah tampak alum. Kaki Legino menginjak - injak, dan terasa empuk. Pikiran Legino melayang. Daruni tidur di dalam gubuk ini bersama dengan seorang lelaki. Tidur beralas kasur anyaman daun kelapa yang empuk dan hangat. Terbayang di benak Legino Daruni dipeluk mesra oleh seorang lelaki entah siapa. Daruni yang kedinginan merasakan kehangatan pelukan lelaki. Dan lelaki yang mendapatkan kesempatan memeluk tubuh indah Daruni di kegelapan gubuk kala malam tidak menyia - nyiakan kesempatan. Lelaki ini pasti mencium pipi dan bibir Daruni. Dan Daruni yang memang menginginkan kehangatan karena dinginnya udara, dan Daruni yang takut akan kegelapan pasti akan membalas ciuman lelaki ini. Daruni yang merasa aman ditemani lelaki di kala malam gelap pasti akan membiarkan tangan lelaki ini menggerayangi tubuh indahnya. Dan Daruni pasti pasrah dan jangan - jangan malah menikmatinya. Di benak Legino lelaki ini sambil mencium bibir Daruni pasti tangannya meraba kemana - mana. Gunung kembar Daruni pasti diraba - raba, dielus - elus dan diremas - remas gemas. Atau bahkan kain yang menutup dada Daruni dibuka lebar - lebar oleh lelaki ini dan puting gunung kembar Daruni disedot - sedotnya. Dan Daruni mendesah - desah menikmati. Tidak hanya itu yang ada di pikiran Legino. Legino terus menerka - nerka apa yang terjadi. Daruni yang terlena malah semakin menyediakan tubuhnya untuk diperbuat lelaki ini. Dibiarkannya tangan lelaki ini yang menyoba mengendorkan kain bawah yang membelit perut dan kakinya. Kain kendor dan segera terbuka. Tangan lelaki yang telah sampai di milik Daruni, membuat Daruni menjadi semakin lupa. Semakin pasrah. Dan lelaki yang memperoleh kepasrahan tidak menyia - nyiakannya. Ditindihnya tubuh indah Daruni. Dan Daruni melayang di atas mega. Daruni tidak tahu lagi sedang ada dimana dan sedang terjadi apa. Daruni hanya bisa menjejak - jejakkan kakinya di anyaman daun kelapa yang menjadi alas dirinya yang sedang digumuli lelaki. Bayangan rekaan di benak Legino ini tiba - tiba membuat Legino merasakan mukanya panas. Dadanya terasa sesak. Dan napasnya memburu. Rasa cemburunya yang meledak - ledak membuat Legino tidak terkendali. Tanpa ingat dan melihat Mijan yang juga di dalam gubuk, Legino tanpa ampun menngangkat gubuk dan merobohkannya. Diinjak - injaknya runtuhan gubuk yang di dalamnya masih ada Mijan yang mengaduh kena robohan gubuk dan injakan kaki Legino. Legino mengamuk tidak keruan. Ditendang - tendangnya runtuhan gubuk. Tidak urung Mijanpun jadi kena tendangan Legino. Tendangan kuat karena disertai kekuatan kemarahan mengenai pantat Mijan. Mijan terdorong dan terpaksa kontal dan terjerembab jauh dari runtuhan gubuk. Mijan hanya bisa meringis kesakitan. " Kang ingat kang ... ingat !" Mijan teriak - teriak sambil menahan sakit di pantat.
Matahari menyondong ke barat. Menandai sore segera akan tiba. Legino dan Mijan masih ada di atas gubuk dimana ada gubuk yang telah roboh diobrak - abrik Legino. Mata mereka memandang ke depan dimana tampak di mata mereka di kejauhan ada pondok. " Kang kalau gubuk yang kang Legino rusak ini pernah ditinggali Daruni, pasti kepergian Daruni selanjutnya  ke pondok itu, kang" Mijan menunjuk - nunjuk sebuah pondok yang jauh dari keberadaan mereka. " Kita harus kesana. Siapa tahu Daruni minta tolong penghuni pondok itu dan bersembunyi di sana." Mijan minta Legino percaya pendapatnya. " Baik Jan, kita lakukan besuk pagi." Jawab Legino dan jawaban ini membuat Mijan bingung. Kalau besuk pagi melakukannya berarti dirinya harus menginap di gumuk pinggiran hutan ini. Mijan takut. " Kok besuk pagi kang. Kenapa tidak sekarang ? Apa tidak sebaiknya kita menginap di pondok itu, kang." Mijan ingin tahu apa rencana Legino. Dan Mijan berharap jika mendatangi pondok itu sekarang berarti bisa menginap di pondok itu. Selama perjalanan menyari Daruni belum pernah Legino dan Mijan menginap di luar rumah. Jika tidak pergi ke pondok itu sekarang berarti malam ini dirinya harus menginap di pinggiran hutan. Mijan miris. " Kalau kita tidak pergi sekarang, kita menginap dimana, kang ?" Mijan minta penjelasan Legino. " Ya disini ! apa pulang ke perkampungan ?" Legino tegas menjawab. Mijan meringis. Mijan ngeri dengan isi hutan. 
Matahari semakin rendah di ufuk barat. Legino diikuti Mijan meneruni gumuk menuju kali di bawah gumuk. Kembali Legino merasakan dadanya panas dan sesak ketika di pinggiran kali ditemukan bekas - bekas kulit kelapa muda yang terbelah. Di benak Legino terbayang betapa mesranya Daruni bersama lelaki itu menikmati buah kelapa muda. Terbayang pula Daruni mandi bersama dengan lelaki itu. Mereka bertelanjang dan menyeburkan diri di air sungai yang jernih. Mereka berpelukan, saling menggosokkan tubuh. Daruni menggosok - gosokkan gunung kembarnya yang tegak kenyal ke dada lelaki itu. Dan sang lelaki menempatkan telapak tangannya di milik Daruni. Mengelusnya dan mempermainkannya. Daruni bergerak - gerak di pelukan lelaki ini. Kemudian kaki Daruni mengangkang memberi kesempatan kepada lelaki ini untuk menyarangkan tombaknya. Daruni terpekik dan kemudian memejamkan mata. Kemudian yang terjadi hanya suara kecipak air yang semakin keras. Dan gelombang air semakin menjadi. Keduanya bergumul di dalam air kali. Saling menyerang, saling menyari, saling menerima. Dan lenguh desah Daruni mengalahkan suara kecipak air. Panas di dada Legino tidak tertahankan. Ditendangnya kulit - kulit kelapa muda. Kulit kelapa muda bertebangan. Dan ada satu yang tidak sengaja mengenai punggung Mijan. Mijan jatuh terjungkal dan merasakan sakit dipunggungnya. Mijan mengaduh kesakitan. " Kang ingat kang ... ingat !" Mijan berteriak - teriak. Legino terus mengamuk. Apa yang ditemukannya ditendangnya. Batu - batu berterbangan. Mijan merangkak - rangkak bersembunyi di balik batu besar. Takut kena sasaran batu - batu yang berterbangan di sekelilingnya. 

masih ada kelanjutannya ............


Kamis, 22 Agustus 2013

Candra Mawa 

                                                                                            edohaput


11

Pini keluar dari kamarnya. Cantik, wangi melati, dan dandanan rapi. Pini menutup pintu kamar dengan sangat hati - hati. Takut cantrik - cantrik lain tahu kalau dirinya keluar kamar. Sejenak Pini berdiri di depan kamar. Matanya melirik ke kiri ke kanan mengamati pintu - pintu kamar para cantrik. Semua pintu sudah tertutup rapat. Bahkan Pini bisa mendengar napas - napas teratur dari dalam kamar. Pini percaya kalau para cantrik temannya sudah pada terlelap. Pini juga sempat mengawasi pintu rumah induk yang menghubungkan dengan rumah belakang tempat kamar - kamar para cantrik. Mata Pini menebarkan pandangan dan singgah di pintu kamar Daruni yang juga sudah tertutup rapat. Bahkan lampu minyak di dalam kamar Daruni juga sudah dipadamkan. Daruni pasti sudah terlelap. Pini melangkah dengan hati - hati. Yang dituju pintu kamar Jambul.  Lampu kamar Jambul masih menyala. Pini percaya Jambul belum tertidur. Sejenak Pini ragu ketika tangannya mau mengetuk pintu kamar. Pini menyoba mengintip lewat celah - celah dinding kamar yang terbuat dari gedhek bambu. Mata Pini melihat Jambul tiduran telentang. Kedua tangannya menyangga bagian belakang kepalanya. Matanya menatap langit - langit kamar tidak berkedip. Gerangan apa yang sedang dilamunkan kang Jambul. Pini melihat Jambul tersenyum, kemudian sedikit menggerakan kepalanya. Gerangan apa yang ada di pikiran kang Jambul. Sedang melamunkan dirinyakah. Atau jangan - jangan kang jambul malah lagi membayangkang Daruni. Jambul merubah posisi tidurnya. Diambilnya bantal yang sejak tadi tidak mengalasi kepalanya. Dipeluknya bantal dengan erat. Jambul lagi - lagi tersenyum. Adakah dirinya yang sedang dibayangkan dipeluk kang Jambul. Ah ... jangan - jangan Daruni yang sedang dibayangkang dipeluk kang Jambul. Pini dirambati rasa cemburu. Pini cemberut. Ada rasa dongkol di hatinya. Pini gondok. Tanpa sadar diketuknya pintu kamar Jambul dengan keras. Di dalam kamar Jambul kaget. Bantal dibuang dan segera turun dari ranjang berdiri melangkah menuju pintu. terbersit sedikit harapan yang mengetuk pintu kamarnya adalah Daruni. Maka sebelum tangannya menyentuh pintu, buru - buru Jambul merapikan diri. Kainnya, ikat kepalanya, dan wajahnya diusap - usap dengan kainnya. Jambul membuka pintu. " Kamu Ni, ada apa ?" Jambuk kecewa. Yang diharapkan Daruni. Pertanyaan Jambul ini membuat Pini sangat sakit hati. Sebelum Daruni ada di pondok, setiap kali malam - malam Pini mengetuk pintu kamar Jambul dan jambul membukakan pintu serta buru - buru menarik tangan Pini masuk ke kamar. Atau jambul  buru - buru menarik tangan Pini untuk diajak ke luar rumah dan mencari tempat yang terlindung. Sejak Daruni berada di pondok Jambul menjadi ogah - ogahan ketika Pini mengetuk pintu kamar. Kali ini malah ada pertanyaan yang sangat menyakitkan hatinya. Pini sakit, Pini marah. Ditariknya kuat tangan Jambul dan berjalan ke luar rumah. Di Luar rumah Jambul terus ditarik Pini sampai di tempat biasa mereka bercumbu dan bercengkerama. Dengan rada kasar Pini menarik tangan Jambul agar duduk di sampingnya. " Ada apa, Ni ?" Jambul sabar. Jambul tahu Pini sedang marah. Jambul menyoba mengendalikan suasana dengan tersenyum sambil menatap Pini. Seandainya saja siang hari pasti akan terlihat muka merah Pini karena marah. Untung yang menyinari wajah Pini hanya rembulan separo. " Ni ... " Tangan Jambul menyoba merangkul pundak Pini. Buru - buru Pini menepiskan tangan Jambul yang mau merangkul. " Na ... Ni ... Na ... Ni ...! Apa itu ... ! Kang ... kang ... !" Pini menatap Jambul sambil matanya melotot. Jambul tahu Pini marah sungguhan. Ini pasti lantaran sikapnya yang selalu memperhatikan Daruni. Jambul sadar. Pini pasti cemburu berat. " Sudah ngomong saja, Ni ... ada apa ?" Jambul sabar dan sambil maraih tangan Pini. Tetapi ditepiskan oleh Pini. " Jangan marah gini ta, Ni. Apa salahku ?" Jambul mengelabuhi Pini dengan kalimatnya. " Kalau ada masalah katakan saja, Ni. Biar jelas. Biar aku tahu." Jambul semakin sabar. " Masalah ... masalah ... ! Ya kang Jambul ini yang buat masalah !" Kalimat Pini disertai getaran bibir. Pini mau menangis. Kalimatnya menjadi tersendat. " Lho kok aku, Ni ? Aku kan tidak apa - apa, Ni. Masalah apa ta, Ni ?" Jambul pura - pura tidak tahu. " Jangan pura - pura kang ! Hati ini tahu kang ! Kalau selama ini kang Jambul berpaling ke Daruni ! Iya kan Kang ?" Saura Pini jadi serak karena tangisnya mulai muncul. Jambul tertawa ngakak. Jambul menyoba menutupi kesalahannya. " O .... itu ta Ni masalahnya." Jambul kembali tertawa. " Ni ... Ni... yang ada di hatiku. Yang ada di pikirku. Yang ada di mataku, cuma kamu Ni ... " Jambul berbohong. Jambul merangkul pundak Pini. Pini tidak menolak. " Kamu jangan salah Ni. Aku mendekati Runi itu bukan aku suka Runi. Tetapi karena aku ingin Runi bisa bekerja seperti kamu. Terampil, trengginas, dan mampu bekerja cepat. Itu saja Ni. Aku berkeinginan kalau Daruni trampil akan meringankan pekerjaanmu, Ni. Ah ... jangan yang tidak - tidak Ni. Hati ini, jiwa dan raga ini hanya buat kamu, Ni." Jambul terus berbohong. " Benar itu kang ?" Marah Pini reda berganti dengan sikap manja. Kepalanya disandarkan di dada Jambul. Hati Jambul berjingkrak gembira. Jambul merasa berhasil mengelabuhi Pini. " Bumi langit menyaksikan, Ni. Ni kamu itu harus tahu. Runi itu anak Demang. Disayang sama Nyi Tambi. Kalau aku berhasil mengajarinya meracik jamu, pasti juga aku akan dapat hadiah dari Nyi Tambi. Dan hadiah itu ahkirnya kamu juga kan yang terima, Ni ?" Rayuan Jambul semakin membuat Pini terlena. Melupakan kemarahannya. Menghilangkan rasa cemburunya. Pini menjadi damai di pelukan jambul. Kesempatan ini segera dimanfaatkan oleh Jambul. Jambul tidak ingin Pini marah seperti tadi. Dan Jambul tidak ingin Pini tahu kalau hatinya telah berkhianat. Diangkatnya dagu Pini dan segera bibirnya ditempelkan di bibir Pini yang basah bau melati. Dibayang Jambul Darunilah yang sedang diciuminya. Pini yang memang sudah sangat rindu diperbuat oleh Jambul yang belakangan ini perhatiannya membelok ke Daruni, segera menyedia - menyediakan badan untuk diperbuat oleh perjaka yang amat dicintainya. Jambulpun tidak menyia - nyiakan kesempatan. Tangannya dengan terampil segera melapasi kancing kain yang dipakai Pini. Tubuh Pini segera terbuka. Jambul menjadi sangat leluasa mempermainkan dada Pini yang sangat terawat oleh jamu. Kecang, kenyal, menggunung, tegak dan sangat menggemaskan yang merabanya. Sambil menggelinjang Pini membalas ciuman panas jambul yang melumat bibir Pini tanpa ampun. Sementara itu tangan nakal Jambul terus menelusur kemana - mana. Dan berhenti di milik Pini yang telah basah. Jambul terus membuat Pini terus ah uh. Sementara tangan Jambul yang tidak bekerja di milik Pini berusaha membebaskan tombaknya yang meronta - ronta di dalam celana. Jambul yang berhasil membebaskan Tombaknya yang telah sangat mengencang keras dan sangat kaku, segera merebahkan Pini di rerumputan. Pini menjerit tertahan tatkala miliknya tersentuh tombak Jambul yang terus amblas tertelan miliknya. Suara rumputan dan daun - daun kering yang menjadi alas Pini terlentang kangkang gaduh bercampur dengan deru napas - napas birahi. Pini dan Jambul berguling - guling di rumputan. Saling menyari dan saling memberi kenikmatan. Rembulan yang separo yang smakin meninggi hanya bisa tersenyum menyaksikan Jambul dan Pini yang terus bergerak dan saling menggeram layaknya macan kerah.

masih ada kelanjutannya .............